Ketapang, 10 Februari 2026 – Dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit kusta serta memperingati Hari Kusta Sedunia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) Cabang Pontianak bekerja sama dengan Kelompok Studi Morbus Hansen Indonesia (KSMHI) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Penyuluhan Penyakit Kusta di Politeknik Negeri Ketapang, Senin, 9 Februari 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan di Kampus Politeknik Negeri Ketapang ini merupakan bagian dari program “PERDOSKI Goes to Campus”, yang bertujuan untuk memberikan edukasi kepada civitas akademika mengenai penyakit kusta sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pengobatan yang tepat.
Dalam kegiatan tersebut, para narasumber dari PERDOSKI memberikan pemaparan mengenai berbagai aspek terkait penyakit kusta, mulai dari pengenalan penyakit, penyebab, cara penularan, gejala yang perlu diwaspadai, hingga metode pengobatan yang tersedia. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya dukungan sosial bagi penderita kusta agar tidak mengalami stigma maupun diskriminasi di masyarakat.
Perwakilan PERDOSKI Cabang Pontianak menjelaskan bahwa hingga saat ini masih terdapat stigma negatif terhadap penderita kusta yang seringkali menyebabkan mereka dikucilkan dari lingkungan sosialnya. Padahal, kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila ditangani dengan tepat dan sedini mungkin.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para mahasiswa dapat memperoleh informasi yang benar mengenai penyakit kusta sehingga mampu menjadi agen edukasi di lingkungan masyarakat. Edukasi yang tepat dinilai sangat penting untuk membantu menghilangkan kesalahpahaman serta stigma yang selama ini masih melekat terhadap penderita kusta.
Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh sekitar 90 mahasiswa dari berbagai program studi di Politeknik Negeri Ketapang. Para peserta terlihat antusias mengikuti jalannya kegiatan yang berlangsung secara interaktif, termasuk pada sesi diskusi dan tanya jawab bersama para narasumber.
Selain memberikan edukasi kesehatan, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk meningkatkan kepedulian sosial terhadap isu kesehatan masyarakat, khususnya terkait penyakit yang masih memiliki stigma di tengah masyarakat.
Melalui kolaborasi antara tenaga medis dan institusi pendidikan tinggi, diharapkan upaya peningkatan literasi kesehatan masyarakat dapat terus ditingkatkan. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong peran aktif generasi muda dalam menyebarkan informasi kesehatan yang benar, serta berkontribusi dalam upaya pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap penderita kusta di masyarakat. (Finn)





